Desain Arsitektur Kota Yang Beridentitas Budaya Sebagai Sebuah Konsep Yang Berkelanjutan

Bhakti Alamsyah

Abstract


Kota sebagai cermin dari suatu masyarakat tidak lepas dari keberadaan bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan identitas suatu kota. Perencanaan ruang yang tidak melihat karakteristik daerah berupa budaya, rona lingkungan dan budaya setempat dapat menimbulkan bencana langsung maupun tidak langsung bagi penghuninya. Identitas yang dimiliki kota Medan dari segi bangunannya tidak lepas dari arsitektur Melayu. Bangunan arsitektur Melayu bercampur dengan gaya kolonial Belanda. Ini merupakan bukti sejarah bahwa pengaruh Belanda terhadap politik dan ekonomi di Medan sangat besar sekali. Arsitektur rumah Melayu menerapkan konsep lingkungan yang sehat, artinya memanfaatkan alam terbuka sebagai pendukung keserasian dan kesatuan antara bangunan dan lingkungannya. Hepcan mengatakan pemanfaatan jalur hijau dengan menggabungkan antara ruang terbuka dengan ruang tertutup secara langsung ataupun tidak, memiliki nilai ekonomi dan rekreasi dapat merangsang urusan bisnis lokal. Fenomena ini terjadi pada lapangan Merdeka atau Merdeka Walk sebagai wujud implementasi pemanfaatan jalur hijau. Adanya pemanfaatan jalur hijau tidak lepas dari desain arsitektur yang berkelanjutan. Chiotinis mengatakan arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) bertujuan menjaga ketahanan lingkungan, sumber daya alami, ekosistem, yang memberikan nilai sejarah untuk perlindungan dan pemeliharaan yang kesinambungan. Melestarikan salah satu contoh budaya yang kuat dengan menerapkan di dalam wujud bentuk yaitu. penandaan, ruang promosi unsur-unsur yang melekat di dalam sejarah atau dari bangunan

Kata kunci: publik space, arsitektur kota, arsitektur berkelanjutan


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21776/ub.ruas.2014.012.02.2

Refbacks

  • There are currently no refbacks.